tonijulianto

dream`s is motivation

MAKALAH DAN ARTIKEL by : toni for all

Tinggalkan komentar

BAB I PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Islam merupakan agama yang sempurna. Dalam islam kehidupan manusia selalu diatur dengan aturan-aturan yang akan mengarahkan manusia kedalam kebahagiaan dunia dan akhirat.  Melihat hal tersebut tidak dapat diungkiri lagi bahwa kita harus mengikuti aturan-aturan dalam ajaran islam. Dalam islam juga diatur hubungan-hubungan manusia, yaitu meliputi hubungan manusia dengan Allah SWT atau biasa disebut dengan Hablum Minallah, kemudian hubungan manusia dengan sesama manusia (Hablum Minannaas) serta bagaimana hubungan manusia dengan lingkungannya.

Dalam hal hubungan manusia dengan Allah SWT, mengenai ini sudah tidak ada yag bisa untuk ditawar-tawar lagi dan orang lain tidak dapat ikut campur mengenai apa yang akan terjadi terhadap hubungan itu nantinya (hasil dari ibadah terhadap Allah SWT). Hubungan manusia dengan Tuhannya (Allah SWT) yaitu ibadah manusia itu terhadap-NYA, misalnya shalat, zhakat, puasa dan ibadah lainnya. Kemudian mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya, hal ini meliputi bagaimana manusia itu memelihara alam dan menjaganya.

Hubungan manusia dengan manusia merupakan hal yang akan menjadi latar belakang dalam makalah kami saat ini. Mengenai hubungan manusia dengan manusia yang lainnya, adalah bagaimana manusia itu mengaplikasikan kodratnya sebagai mahluk sosial hal ini dapat ditujukan dalam sossialisasi dirinya dengan saudara, teman, orang tua, suami/istri, ataupun orang yang tidak mereka kenal. Manusia adalah mahluk yang memiliki naluri untuk memiliki pasangan dalam rona kehidupannya yaitu melalui kehidupan suami-istri. Untuk menempuh kehidupan itu seseorang hars menempuh beberapa tahapan salah satunya yaitu dengan meminang dan kemudian jika terjadi kecocokan dilanjut dengan akad pernikahan. Jika hal tersebut sudah di lakukan maka keduanya dapat menjalani kehidupan secara bersama sebagai suami-istri.

Namun dalam kehidupan yang modern saat ini banyak orang yang melakukan hubungan seperti suami-istri, padahalnya keduanya belum terikat hubungan pernikahan terutamanya para pemuda atau remaja. Tindakan yang seperti ini merupakan tindakan yang keliru dan bertentangan dengan syar`iat agama islam dan hal itu mendorong kami untuk lebih mengungkapkan bahwa hal itu adalah kekeliruan. Ini ditujukan agar para manusia sadar akan penyimpangan yang dilakukan khususnya para pemuda islam masa kini, karena kejayaan islam adalah tanggung jawab kita sebagai umat islam.

Dalam hal meminang terdapat aturan-aturan dan hal-hal yang mendasari. Saat seseorang meminang wanita, bukan berarti ia dapat melakukan hubungan seperti sudah mahramnya, karna hal itu didasari bahwa meminang bukan berarti menikah. Hal itu karena meminang dapat dibatalkan. Setelah melakukan peminangan dan keduanya cocok atau mau melanjutkan maka akan berlangsung ke akad nikah, dalam akad nikah seorang lalaki harus memberikan mahar kepada calon istrinya. Mahar yang akan diberikan sebaiknya hal yang berharga dan sesuai dengan kemampuan dari sang laki-laki, namun di zaman sekarang sering kali menganggap mahar adalah hal tidak penting untuk diperhitungkan, padahal melaalui mahar tersebut membuktikan keseriusan akan pernikahan yang akan di lakukan pihak laki-laki, seperti : Nabi Muhammad yang memberikan mahar yang berharga pada khadijah.

  1. B.       Tujuan Dan Manfaat

Tujuan kami dalam membuat makalah ini sebagai bahan bacaan agar pembaca, utamanya pemuda menyadari akan pentingnya menjaga hubungan antar sesama dan menjaga untuk tidak melakukan hubungan yang salah, karena hal itu sebenarnya akan mengarahkan kita pada kemaksiatan. Melalui makalah ini, kami juga bertujuan untuk menjadikan buku ini sebagai ajang dakwah, yang mungkin dapat bermanfaat bagi kita semua sebagai seorang muslim untuk berkoreksi atas segala kekeliruan.

Manfaat yang dapat diambil dengan hadirnya makalah ini antara lain ;

  1. Sebagai bahan acuan dan penambah wawasan mengenai aturan dan kehidupan mengenai umat islam yang sesungguhnya.
  2. Sebagai pengingat kita akan kekeliruan yang mungkin kita lakukan selama ini dan prinsip-prinsip kehidupan kita yang mungkin kurang sesuai aturan atau salah selama ini.
  3. Untuk menambah wawasan kita mengenai apa itu meminang dan mahar serta hal-hal yang berhubungan dengan pokok masalah tersebut.

BAB II MEMINANG DAN MAHAR

A. KHITBAH (MEMINANG)

1.1 Pengertian Meminang

Dalam merencanakan kehidupan berumah tangga, diantara langkah yang harus ditempuh oleh seorang ikhwan adalah menetapkan seorang akhwat yang diinginkan untuk menjadi calon istrinya. secara syar`i ikhwat tersebut menjalaninya dengan melakukan khitbah (peminangan) kepada akhwat yang diinginkannya. Adapun disyariatkannya khitbah adalah agar masing-masing pihak dapat mengetahui calon pendamping hidupnya.

Meminang adalah menampakan keinginan menikah terhadap seorang perempuan tertentu dengan memberitahu perempuan yang dimaksud atau keluarganya(walinya). Ada juga yang mengartikan meminang adalah seseorang yang sedang meminang seorang perempuan berarti ia memintanya untuk berkeluarga yaitu untuk dinikahi dengan cara islam. islam telah manganjurkan dan bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk melangsungkan pernikahan. Berkaitan dengan anjuran utuk menikah, Allah SWT, berfirman : “nikahilah oleh kalian perempuan-perempuan yang kalian sukai (An- nisa [4]:3). ibnu mas`ud menuturkan bahwa Rasulullah SAW, telah mengingatkan :  “wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah sanggup memikul beban. hendaklah ia segera menikah, karena hal itu dapat menundukan pandangan dan menjaga kehormatan. sebaliknya siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia shaum karena hal itu dapat menjadi perisai.

Diantara peristiwa khibah (meminang) yang terjadi pada masa Rasulullah SAW, adalah yang dilakukan oleh sahabat beliau, Abdurrahman bin `auf yang meminang ummu hakim binti Qarizh. Hadist riwayat bukhari menjelaskannya bahwa sebagai berikut : Abdurrahman bin `auf berkata kepada ummu hakim binti Qarizh,” maukah kamu menyerahkan urusanmu kepadaku?” ia menjawab,” baiklah” (Abdurrahman bin `auf) berkata,” kalu negitu naiklah kamu saya nikahi.” (HR. Bukhari). Abdurrahman bin `auf dan ummu hakim binti Qarizh keduanya merupakan sahabat Rasulullah SAW.

ketika itu Ummu hakim berstatus manjanda karena suaminya telah gugur dalam medan jihad fii sabillah, kemudian Abdurrahman bin `auf ( yang masih sepupunya) datang kepadanya untuk meminang dan langsung menikahinya.

kejadian ini menunjukan seorang laki-laki boleh meminang secara langsung calon istrinya tanpa didampingi oleh orang tua atau walinya dan Rasulullah Saw, tidak menegur atau menyalahkan Abdurrahman bin `auf atas kejadian ini. selain itu seorang wanita juga diperbolehkan untuk meminta seoarang laki-laki agar menjadi suaminya. akan tetapi ia tidak boleh melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari`at islam. kebolehan ini didasarkan pada kisah ini : pernah ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Saw, seraya berkata ‘ wahai Rasulullah aku datang untuk menyerahkan diriku kepada engkau.’ Rasulullah Saw lalu melihatnya dengan menaikan dan menetapkan pandangannya.  ketika melihat bahwa Rasulullah tidak memberikan keputusan maka wanita itupun tertunduk. (HR. Bukhari).

Berdasarkan uraian diatas , maka dapat dipahami bahwa meminang merupakan jalan untuk mengungkapkan maksud seorang ikhwan/akhwat kepada lawan jenisnya terkait tujuan membangun  sebuah kehidupan berumah tangga baik dilakukan secara langsung (kepada calon) ataupun melalui perwakilan pihak lain.

1.2 Proses Meminang

Dalam beberapa dalil di atas telah dijelaskan tentang bagaimana proses meminang dapat berlangsung sendiri oleh seorang ikhwan langsung kepada akhwatnya atapun dengan mewakilkan, kemudian bisa juga di lakukan oleh seorang ikhwan kepada keluarga atau wali dari  akhwat.  Selain itu ada beberapa hal yang harus di pahami ketika melakukan khitbah (meminang) antara lain :

  1. Kebolehan melihat wanita yang akan dikhitbah/dipinang

Melihat yang dimaksudkan disini adalah meliht diri wanita yang ingin dinikahi dengan tetap berpanutan pada aturan syar’i ”Dari Anas bin Malik, ia berkata,”Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan. Lalu rasulullah Saw. Bersabda,”Pergilah untuk melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua”. Lalu ia melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu.(HR. Ibnu Majah: dishohihkan oleh Ibnu Hibban, dan beberapa hadits sejenis juga ada misalnya diriwayatkan Oleh Tirmidzi dan Imam Nasai.) jadi dapat dikatakan bagi pelamar boleh melihat wanita yang dilamarnya, tetapi ia tidak boleh melihat auratnya. Rasulullah pernah bersabda : “jika salah seorang diantara kalian meminang seorang perempuan, sekiranya dapat melihat sesuatu darinya yang mampu menamdah keinginan untuk menikahinya, makahendaklah ia melihatnya. ( HR, Abu Dawud dan Hakim).

  1. Tidak boleh meminang wanita yang masih dipinang oleh orang lain.

Seorang lelaki tidak boleh meminang wanita yang masih dalam pinangan lelaki lain, kecuali setelah khitbah tersebut dilepas oleh lelaki yang pertama atau alasan syar`i lainnya, seperti: meninggal dunia.  Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW : “seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Tidak halal seorang mukmin menawar di atas tawaran saudaranya dan meminang (seorang wanita) di atas pinangan saudaranya hingga nyata (bahwa pinangan itu) sudah di tinggalkannya. (HR. Muslim dan Ahmad).

  1. Merahasiakan pelamarannya (tidak mengumumkan ke orang banyak)

Dari Ummu Salamah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Kumandangkanlah pernikahan dan rahasiakanlah peminangan”.Hal ini mungkin didasari sifat atau status meminang yang belumtentu kelanjutannya, apakah akan berlanjut ke akad pernikahan atau tidak.

  1. Seorang akhwat berhak menerima atau menolak khitbah(pinangan)

Seorang wanita yang telah dilamar atau dipinang, maka dirinya yang berhak untuk menerima ataupun menolakcalon suaminya, bukan hak salah seorang walinya ataupun orang-orang yang akan mengawinkannya, tanpa seizin wanita yang bersangkutan, dan diapun tidak boleh dihalang-halangi untuk menikah.

  1. Meminang bukanlah setengah pernikahan

Kekeliruan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat tentang meminang sering mengiringi mereka pada anggapan bahwa pasangan laki-laki dan perempuan yang telah melangsungkan peminangan, maka ia boleh melakukan aktifitas suami istri asal tidak kelewat batas.misalnya: jalan berduaan atau berpegangan tangan. Namun sebenarnya meminang hanya merupakan janji kedua pihakl untuk menikah pada waktu yang disepakati, dan demikian setelah akad peminangan dilangsungkan, maka status bagi keduanya adalah tetap orang asing (bukan mahram) antara satu dengan yang lainnya.

 

1.3 Kurun Waktu Dalam Menempuh Khitbah (Meminang)

Kurun waktu khitbah (meminang) adalah rentang waktu antara diterimanya khitbah (akad peminangan) hingga dilangsungkanya pernikahan (akad nikah). Berdasarkan peristiwa peminangan yang terjadi pad masa Rasulullah Saw,  yaitu antara Abdurrahman bin `auf terhadap Ummu Hakim binti Qarizh dimana Abdurrahman bin `auftelah melakukan peminangan  secara langsung kepada Ummu hakim kemidian dilangsungkan pula pernikahannya pada waktu itu. Terhadap kejadian ini Rasulullah Saw, tidak menyalahkan atas tindakan Abdurrahman bin `auf berarti ini menunjukan persetujuan beliau.

Berarti, sebenarnya tidak ada batasan waktu yang pasti untuk melangsungkan pernikahan pasca dilangsungkan peminangan, apakah 1 hari, 1 minggu, 1 bulan ataupun 1 tahun setelahnya. Hanya saja berkaitan dengan hal ini,syari juga menganjurkan untuk menyegerakan suatu perbuatan kebaikan apabila telah diniatkan. Seperti sabda Raulullah: bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. (saat itu) dipagi harinya seseorang beriman tetapi disore harinya ia menjadi kafir. Di sore harinya ia beriman tapi dipagi harinya ia kafir. Ia menjual agamanya dengan harta dunia.( HR. Muslim dan Abu Hurayrah)

Melaksanakan penikahan dengan segera apabila segala sesuatunya telah disiapkan dan dimantapkan ( terutama niat dan juga ilmu selain itu jugatidak mengabaikan kebutuha materi) merupakan hal yang dianjurkan.  Firman Allah SWT : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan antara-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamna sahayamu yag perempuan, jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnianya dan Allah maha luas (pemberian- Nya) lagi maha mengetahui. (QS, An-Nur [24];32).Maksud dari ayat tersebut adalah hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita-wanita yang tiddak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin. Apabila rentang khitbah dengan dengan pernikahan ternyata cukup jauh, maka harus tetap adanya upaya untuk saling menjaga diri dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, karena rentan waktu penantian tersebut sangat mungkin mucul godaan-godaan untuk terjerumus dalam pelanggaran syari`at ataupun godaan untuk berpaling kepada seorang calon yang lain, dan sebagainya.

1.4 Pembatalan Khitbah (Meminang)

Dalam melangsungkan proses peminangan/meminang , terdapat banyak hal yang akan ditemukan oleh kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan), terhadap keadaan karakter, sikap dan sebagainya, satu sama lain. sehingga bekaitan degan fungsi meminang itu sendiri yaitu sebagai gerbang  menuju pernikahan yang dalamnya terdapat aktifitas saling mengenal (ta`aruf) lebih jauh dengan cara ma`ruf, maka apabila dalam ta`aruf tersebut salah satu pihak menilai dan mempertimbangkan adanya ketidakcocokan antara dirinya terrhadap calon pasangannya ataupun sebaliknya, maka ia behak untuk membatalkan khtibah(pinangan) tersebut.

Pembatalan khitbah merupakan hal yang wajar, bukanlah hal yang berlebihan. Menganggap hal ini secara berlebihan merupakan tindakan yang keliru., misalnya anggapan bahwa pembatalan meminang/ peminangan adanya penilaian bahwa, salah satu calon bagi calon yang lainnya memiliki banyak kekurangan kemudian iapun menganggap sebagai pihak yang tidak pernah dsapat menikah dengan  orang lain nantinya (setelah diputuskan cintanya) karena saat ini puyn kekurangan-kekurngan tersebut dinilai telah berimplikasi pada kegagalan meminang dengan seseorang. Padahal itu hanya sikap skeptis yang muncul pada dirinya karena terdorong oleh emosional; dan kelemahan iman.

Seperti halnya mengawali meminang maka ketika akan mengakhiri meminang dengan pembatalan pun harus dilakukan dengan cara yang ma`ruf dan tidak menyalahi ketentuan syar`i. Dalam hal membatalkan peminangan, hal yang perlu diperhatikan adalh adanya alasan-alasan syar`i yang umembolehkan pembatalan tersebut terjadi. Misalnya salah satu  atau kedua belah pihak menemukan kekurangan-kekurangan pada diri calonnya dan ia menilai kekurangan tersebut bersifat fatal(prinsip) seperti ; dimilikinya ahlak yang rusak (gemar bermaksiat) berpandangan hidup yang menyimpang dari aturan islam, berpenyakit menular yang membahayakan, serta alasan-alasan lain yang dapat menghambat kelangsunagn kehidupan rumah tangga nantinya apabila  berbagai kekurangan tersebut ternyata sangat sulit untuk di ubah.

Selain pertimbangan tersebut,  pembatalan peminanganm juga berlaku apabila adanya qada dari Allah SWT,  misalnya kematian yang menimpa salah satu ataupun keduanya sebelum dilakukan akad nikah. selain alasan-alasan yang syar`i pembataln peminangan tidak boleh dilakukan, karena hal itu akan menyakiti satu sama lain dan merupakan dari ciri-ciri orang  yang munafik, karena telah menyalahi janji untuk menikahi pihak yang di pinangnya.

Adapun berkaitan dengan sesuatu atau benda yang pernah diberikan sebagai hadiah/hibah dan dilakukan sebelum pembatalan peminangan maka sesuatu atau benda tersebut tetap menjadi hak milik pihak penerima. Pihak pemberi juga tidak boleh meminta kembali sesuatu atau benda yang pernah diberikannya tersebut.  Rasulullah Saw pernah bersabda : ‘tidak halal seseorang yang telah memberikan sesuatu atau menghibahkan sesuatu, memiunta kembali barangnya, kecuali pemberian ayah kepada anaknya. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmizi dan Nasa`i dari Ibnu Abbas)

B. MAHAR

2.1 Pengetian Mahar

Mahar adalah harta yang diberikan pihak calon suami kepada calon istrinya untuk dimiliki sebagai penghalal hubungan mereka. Mahar ini menjadi hak istri sepenuhnya, sehingga bentuk dan nilai mahar ini pun sangat ditentukan oleh kehendak istri. Bisa saja mahar itu berbentuk uang, benda atau pun jasa, tergantung permintaan pihak istri. Mahar dan Nilai Nominal. Mahar juga diartikan pemberian pria kepada wanita tanpa pengganti. Demikianlah yang diungkapkan oleh Al-Qur’an al-Karim dalam firman-Nya,

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, Berikanlah maskawin mahar kepada perempuan (yang kau nikahi) sebagai pemberian dengan penuh karelaan, kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.(An-Nisaa’:4).  Kerelaan sendiri memiliki arti pemberian tanpa ganti.

Mahar adalah menjadi hak penuh sang isteri  yang harus ditunaikan oleh sang suami, dan ia menjadi hak miliknya. Tidak halal bagi seorangpun, baik bapaknya ataupun lainnya mengambil sebagian darinya kecuali dia ridha.

Al-Qur’an membatasi makna mahar dan menegaskan bahwa ia bukan sekadar harta yang dibayar sebagai ganti dari apa yang diberikan wanita dari dirinya, namun merupakan hadiah yang diberikan pria kepada wanita sebagai konsekuensi wajib dari suatu akad nikah, yang boleh jadi untuk menarik kecintaan sang kekasih (wanita) , dan boleh jadi karena pria-dalam tradisi masyarakat umum-adalah yang banyak mengambil manfaat dari perkawinan, sebagai ganti dari apa yang diberikan wanita dari darinya kepada si pria. Ini memberikan inspirasi tentang perlunya pria memberikan sesuatu kepada wanita sebagai ganti dari apa yang diberikannya untuknya dalam hubungan rumah tangga.

Pengertian demikian ini tidak murni seperti proses pertukaran, tetapi ia berkaitan dengan aspek inspirasi, seakan-akan ketika seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, maka secara alami orang lain tersebut dituntut untuk merespon apa yang diberikan oleh orang yang pertama itu dan memberinya sesuatu sebagai ganti darinya, atau itu menuntut ketertarikan orang lain untuk memberi sesuatu sebagai ganti dari apa yang diberikan oleh orang yang pertama.

Mahar ini pada hakikatnya dinilai dengan nilai uang, sebab mahar adalah harta, bukan sekedar simbol belaka. Itulah sebabnya seorang dibolehkan menikahi budak bila tidak mampu memberi mahar yang diminta oleh wanita merdeka. Kata ‘tidak mampu’ ini menunjukkan bahwa mahar di masa lalu memang benar-benar harta yang punya nilai nominal tinggi.Bukan semata-mata simbol seperti mushaf Al-Quran atau benda-benda yang secara nominal tidak ada harganya.

Hal seperti ini yang di masa sekarang kurang dipahami dengan cermat oleh kebanyakan wanita muslimah. Padahal mahar itu adalah nafkah awal, sebelum nafkah rutin berikutnya diberikan suami kepada istri. Jadi sangat wajar bila seorang wanita meminta mahar dalam  bentuk harta yang punya nilai nominal tertentu. Misalnya uang tunai, emas, tanah, rumah,kendaraan, deposito syariah, saham, kontrakan, perusahaan atau benda berharga lainnya.

Adapun mushaf Al-Quran dan seperangkat alat shalat, tentu saja nilai nominalnya sangat rendah, sebab bisa didapat hanya dengan beberapa puluh ribu rupiah saja. Sangat tidak wajar bila calon suamiyang punya penghasilan menengah, tetapi hanya memberi mahar semurah itu  kepada calon istrinya.

 

2.2 Bentuk-Bentuk Mahar

a. Mahar Dengan Mengajar Al-Quran

Demikian juga bila maharnya adalah mengajarkan Al-Quran kepada istri, tentu harus dibuat batasan bentuk pengajaran yang bagaimana, kurikulumnya apa, berapa kali pertemuan, berapa ayat, pada kitab rujukan apa dan seterusnya. Sebab ketika mahar itu berbentuk emas, selalu disebutkan jumlah nilainya atau beratny, maka ketika mahar itu berbentuk pengajaran Al-Quran, juga harus ditetapkan batasannya.

Kejadian di masa Rasulullah SAW di mana seorang shahabat memberi mahar berupa hafalan Al-Quran, harus dipahami sebagai jasa mengajarkan Al-Quran. Dan mengajarkan Al-Quran itu memang jasa yang lumayan mahal secara nominal. Apalagi kita tahu bahwaistilah mengajarkan Al-Quran’di masa lalu bukan sebatas agar istri bisa hafal bacaannya belaka, melainkan juga sekaligus dengan makna, tafsir, pemahaman fiqih dan ilmu-ilmu yang terkait dengan masing-masing ayat tersebut

Dari Sahal bin Sa’ad bahwa nabi SAW didatangi seorang wanita yang berkata,”Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu”, Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata,” Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya.” Rasulullah berkata,” Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? Dia berkata, “Tidak kecuali hanya sarungku ini” Nabi menjawab,”bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu.” Dia berkata,” aku tidak mendapatkan sesuatupun.” Rasulullah berkata, ” Carilah walau cincin dari besi.” Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi,” Apakah kamu menghafal qur’an?” Dia menjawab,”Ya surat ini dan itu” sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi,”Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan qur’anmu” (HR Bukhori Muslim).

Dalam beberapa riwayat yang shahih disebutkan bahwa beliau bersabda,”Ajarilah dia al-Qur’an.” Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa jumlah ayat yang diajarkannya itu adalah 20 ayat. Permintaan mahar dalam bentuk harta yang punya nilai nominal ini pada harus dipandang wajar, sebab kebanyakan wanita sekarang seolah tidak terlalu mempedulikan lagi nilai nominal mahar yang akan diterimanya.

b. Dalam Bentuk Nominal

Sebagian ulama mengatakan tidak ada batas minimal dengan mahar. Bila Laki-laki Tidak Mampu Boleh Mencicil Kenyataan bahwa manusia itu berbeda-beda tingkat ekonominya, sangat dipahami oleh syariah Islam. Bahwa sebagian dari manusia ada yang kaya dan sebagian besar miskin. Ada orang mempunyai harta melebihi kebutuhan hidupnya dan sebaliknya ada juga yang tidak mampu memenuhinya.

Karena itu, syariah Islam memberikan keringanan kepada laki-laki yang tidak mampu memberikan mahar bernilai nominal yang tinggi sesuai permintaan calon istri, untuk mencicilnya atau mengangsurnya. Kebijakan angsuran mahar ini sebagai jalan tengah agar terjadi solusi antara kemampuan suami dan hak istri agar tidak ada yang dirugikan.

Istri tetap mendapatkan haknya berupa mahar yang punya nilai nominal, sedagkan suami tidak diberatkan untuk membayarkannya secara tunai. Inilah yang selama ini sudah berjalan di dalam hukum Islam. Ingatkah anda, setiap kali ada ijab kabul diucapkan, selalu suami mengatakan,”Saya terima nikahnya dengan maskawin tersebut di atas tunai!!.” Mengapa ditambahi dengan kata ‘tunai’?, sebab suami menyatakan sanggup untuk memberikan mahar secara tunai.

Namun bila dia tidak punya kemampuan untuk membayar tunai, dia boleh mengangsurnya dalam jangka waktu tertentu. Jadi bisa saja bunyi ucapan lafadznya begini: “Saya terima nikahnya dengan maskawin uang senilai 100 juta yang dibayarkan secara cicilan selama 10 tahun.

c. Tidak Dalam Bentuk Apa-apa

Bahkan bila seorang laki-laki tidak punya harta, juga tidak punya ilmu, tapi tetap ingin menikah agar tidak jatuh ke dalam lembah zina,boleh saja seorang wanita mengikhlaskan semua haknya untuk menerima harta mahar.

Sebab mahar itu memang hak sepenuhnya calon istri, maka bila dia merelakan sama sekali tidak menerima apa pun dari suaminya, tentu tidak mengapa. Dan kejadian itu pun pernah terjadi di masa Rasulullah SAW. Cukup baginya suaminya yang tadinya masih non muslim itu untuk masuk Islam, lalu wanita itu rela dinikahi tanpa pemberian apa-apa. Atau dengan kata lain, keIslamanannya itu menjadi mahar untuknya. Dari Anas bahwa Aba Tholhah meminang Ummu Sulaim lalu Ummu Sulaim berkata, ” Demi Allah, lelaki sepertimu tidak mungkin ditolak lamarannya, sayangnya kamu kafir sedangkan saya muslimah. Tidak halal bagiku untuk menikah denganmu. Tapi kalau kamu masuk Islam, keIslamanmu bisa menjadi mahar untukku. Aku tidak akan menuntut lainnya.” Maka jadilah keIslaman Abu Tholhah sebagai mahar dalam pernikahannya itu. (HR Nasa’i 6/ 114). Semua hadist tadi menunjukkan kasus kasus yang terjadi di masa lalu,di mana seorang laki-laki yang punya kewajiban memberi mahar dengan nilai tertentu, tidak mampu membayarkannya. Hadits-hadits di atas tidak menunjukkan standar nilai nominal mahar di masa itu, melainkan sebuah pengecualian.

 

2.3  Pentingnya Mahar

Akad tetap sah meski tanpa menyebut mahar. Meskipun seandainya si pria lupa atau lalai darinya, maka akad tersebut tetap sah. Tetapi dalam keadaan seperti ini, si istri berhak secara langsung untuk menerima mahar mitsil, kecuali apabila ia (istri) memaafkannya (suami).

Apakah penyerahan mahar kepada wanita berhubungan dengan hak seksual pria? Atau, apakah laki-laki boleh menunda pembayaran mahar? Seorang pria tidak memiliki hak seksual atas istrinya, kecuali setelah ia membayarkan mahar kepadanya, kecuali jika si wanita rela dengan keadaan itu. Apabila mahar ditunda dan ia (wanita) rela dengan penundaan itu, maka Apakah wanita sebelum Islam diberi mahar? Mahar itu juga terdapat sebelum Islam, tetapi ia dianggap sebagai harga bagi wanita, dan Islam mengubahnya dari pengertian ini menjadi pemberian. itu adalah haknya.

Jika Islam telah mengakui mahar, dan itu merupakan tradisi yang sudah ada sebelum kedatangannya, maka apakah tradisi-tradisi yang khusus berkaitan dengan mahar yang ada sebelumnya lalu dihapusnya? Termasuk tradisi yang dikenal pra-Islam adalah nikah syighar yang mengharuskan wanita membayar mahar sebagai ganti dari wanita lain, seperti bila seorang wanita diberikan kepada seorang pria lalu pria ini memberikan saudara wanitanya, dimana masing-masing dari mereka menjadi mahar bagi yang lain dalam akad yang kedua. Islam menghapus budaya ini, karena ia mengangap setiap wanita memiliki mahar ketika mau menikah. Wanita tidak dapat menjadi ganti dari wanita lain, karena setiap mereka memiliki kebebasan untuk memilih orang yang hendak dinikahinya, dan dalam memperoleh mahar yang diinginkannya. Islam telah menghapus tradisi ..nikah syighar”.

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan pada penjelasan-penjelasan mengenai meminang dan mahar di atas, kami dapat menarik beberapa kesimpulan antaranya:

  1. Meminang adalah menampakan keinginan menikah terhadap seorang perempuan tertentu dengan memberitahu perempuan yang dimaksud atau keluarganya (walinya).
  2. Kurun waktu khitbah (meminang) adalah rentang waktu antara diterimanya khitbah (akad peminangan) hingga dilangsungkanya pernikahan (akad nikah).
  3. Pembatalan khitbah merupakan hal yang wajar, bukanlah hal yang berlebihan.
  4. Mahar adalah harta yang diberikan pihak calon suami kepada calon istrinya untuk dimiliki sebagai penghalal hubungan mereka.
  5. Ada beberapa bentuk mahar diantaranya : mahar dengan mengajarkan AL-Qur`an, dalam bentuk nominal, dan tidak dalam bentuk apa-apa.
  1. Saran

Kami menyadari dalam penyusunan dan penjelasan yang ada di dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami menyarankan untuk dilakukan suatu pengkajian yang lebih mendalam mengenai materi ini. Dan demi perbaikan makalah kami selanjutnya kami mohon saran dan ktitik pembaca yang tentunya membangun. Demikianlah hasil karya tulis kami yang terangkim dalam suatu makalah semoga bermanfaat dan akhirnya kami ucapkan terima kasih.

Penulis: tonijulianto

dream`s is motivation UM METRO LAMPUNG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s